Daya Tarik Sejarah Wisata Stasiun Tuntang, Salatiga

Wisata Bisnis – Wajah baru Stasiun Tuntang ini hadir melalui wisata perahu berkonsep “ala Korea” yang memadukan nuansa estetik, romantis, dan heritage. Program ini merupakan hasil sinergi PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui program CSR dengan PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) sebagai pengelola kawasan.

Stasiun Tuntang adalah stasiun kereta api kelas III yang ada di perbatasan antara Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Berlokasi di ketinggian +464 meter, stasiun ini termasuk dalam pengelolaan KAI Wisata. Oleh karena itu, perannya terbilang cukup vital dalam jalur kereta api wisata Ambarawa–Tuntang.

Stasiun Tuntang bukan sekadar simpul transportasi lama, tetapi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa. Dari kawasan inilah narasi perkeretaapian dan pergerakan sosial masa lalu tumbuh, kini dihidupkan kembali melalui konsep wisata kreatif dan berkelanjutan.

Sejarah Stasiun Tuntang

Stasiun Tuntang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) di tahun 1871 dan beroperasi pada 21 Mei 1873. Fungsinya sendiri adalah sebagai jalur pengangkutan hasil kebun seperti gula, kopi, karet, dan cokelat menuju Stasiun Ambarawa.

Gaya arsitektur stasiun tersebut berasal dari pembangunan ulang di tahun 1905. Desain tersebut menampilkan gaya “Chalet NIS” yang juga digunakan pada stasiun Bringin dan stasiun lain buatan NIS.

Menariknya, Stasiun Tuntang juga menjadi titik transit bagi bus NIS yang menghubungkan Tuntang dengan Salatiga. Layanan bus ini kemudian diambil alih oleh perusahaan swasta Eerste Salatigasche Transport Onderneming (ESTO) pada tahun 1921.

Pada tahun 1970-an, Stasiun Tuntang sempat dinonaktifkan karena kalah bersaing dengan moda transportasi lain. Namun, jalur Ambarawa–Tuntang kembali diaktifkan pada 2002 untuk keperluan wisata, terutama layanan kereta uap. Lalu, pada tahun 2009, giliran Stasiun Tuntang yang direnovasi untuk melayani perjalanan kereta wisata secara rutin.

Daya Tarik Stasiun Tuntang

Arsitektur Bergaya Chalet NIS yang Ikonik

Salah satu daya tarik Stasiun Tuntang adalah desain bangunannya yang khas dan bersejarah. Gaya “Chalet NIS” dengan sentuhan kolonial Eropa memberikan kesan klasik yang kuat.

Desain ini tidak hanya estetis, tapi termasuk dari sejarah arsitektur perkeretaapian Indonesia. Hal tersebut menjadikan stasiun ini sebagai spot menarik untuk fotografi maupun eduwisata.

Kereta Wisata Ambarawa–Tuntang dengan Lokomotif Uap

Stasiun Tuntang kini difungsikan sebagai titik akhir dari perjalanan kereta wisata dari Museum Kereta Api Ambarawa. Kereta wisata ini menggunakan lokomotif uap kuno yang mampu memberikan pengalaman unik kepada penumpang.

Perjalanan tersebut menyuguhkan pemandangan pedesaan, persawahan, dan pegunungan yang memanjakan mata. Nuansa nostalgia yang ditawarkan menjadikan perjalanan ini populer di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Wisata Perahu

Kehadiran wisata perahu melengkapi Stasiun Tuntang sebagai destinasi wisata terpadu berbasis heritage, edukasi, dan rekreasi. Kawasan ini kini tak hanya menjadi ruang nostalgia, tetapi juga ruang interaksi wisata yang hidup dan berdaya tarik.

Pengunjung tidak hanya diajak menyusuri perairan Rawa Pening, tetapi juga menikmati suasana stasiun bersejarah dengan latar cerita panjang transportasi Indonesia. Nuansa instagramable berpadu dengan nilai historis yang memperkuat storytelling kawasan.

Wahana wisata perahu ini beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Tarif yang ditawarkan sebesar Rp15.000 untuk durasi 20 menit, dengan kapasitas maksimal lima penumpang dalam satu perahu.

Sub-depo Lokomotif Diesel yang Historis

Di area Stasiun Tuntang, terdapat sub-depo lokomotif yang masih menyimpan beberapa lokomotif diesel tua. Lokasi ini menjadi bagian dari upaya pelestarian lokomotif diesel hidraulik dan elektrik yang sudah tidak beroperasi secara reguler.

Kehadirannya semakin memperkuat citra Stasiun Tuntang sebagai kawasan wisata sejarah kereta api yang lengkap. Bagi penggemar dunia perkeretaapian, sub-depo ini menjadi spot menarik untuk belajar dan mengabadikan sejarah.