Ragam Wisata Musik di Indonesia

Wisata Bisnis – Musik merupakan salah satu kesenian yang terus berkembang dari masa ke masa. Di Indonesia, sejak kecil kita sudah diperkenalkan dengan musik-musik tradisional, juga tetap terbuka pada musik modern.

Berbagai daerah di Indonesia memiliki beragam alat musik tradisional yang khas, seperti rebab, sasando, tifa, gambus, kolintang, gamelan, angklung, dan serunai. Begitu juga dengan jenis musik etnik seperti krumpyung, keroncong, gong luang, gambang kromong, krombi, huda, cilokak, dan karang dodou.

Tak sulit sebenarnya jika ingin mempelajari seni musik yang eksis di Indonesia baik secara tradisional maupun internasional. Mengingat ada banyak destinasi atau objek edukasi sekaligus wisata yang dapat dikunjungi untuk mendalami berbagai hal tentang musik. Mulai dari desa hingga museum, berikut deretan destinasi wisata bertemakan musik yang dapat dikunjungi di Indonesia.

Museum Musik Indonesia

Museum Musik Indonesia terletak di Gedung Kesenian Gajayana, Jalan Nusakambangan, Malang, Jawa Timur. Pendirian museum ini merupakan inisiasi Komunitas Pecinta Kajoetangan dan awalnya bernama Galeri Malang Bernyanyi. Baru pada tahun 2016 namanya diresmikan oleh Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bersama Pemerintah Kota Malang sebagai Museum Musik Indonesia.

Secara keseluruhan, jumlah koleksi Museum Musik Indonesia mencapai 26.109 item. Untuk koleksi di museum ini didominasi oleh media rekaman fisik berupa kaset, piringan hitam, CD, VCD, dan DVD. Tak hanya dari dalam negeri, museum ini juga memiliki koleksi dari luar negeri.

Ketika masuk ke dalam museum, pengunjung akan langsung melihat etalase yang berisi koleksi piringan hitam. Kemudian ada pula berbagai koleksi majalah musik, poster penyanyi Indonesia, dan alat musik milik musisi Indonesia. Museum ini juga menyimpan baju dan koleksi kaset milik Guruh Soekarno Putra dan baju panggung milik Dara Puspita.

Dusun Tuni

Dusun Tuni sebenarnya merupakan nama dari sebuah wilayah yang berada di Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku. Sedikit informasi, Ambon sendiri selama ini dikenal sebagai kota musik di Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO.

Ambon juga terkenal dengan musikalitas tinggi lewat kehadiran sejumlah seniman musik besar dan ternama seperti Bob Tutupoly, Daniel Sahuleka, Benny Likumahuwa, Ruth Sahanaya, dan Glenn Fredly.

Kembali ke Dusun Tuni, desa ini telah menjadi salah satu dari 10 destinasi unggulan pariwisata bertemakan musik yang telah menggelar berbagai acara musik berskala internasional. Salah satunya konser musik kolaborasi ‘From and to Infinity 2’ pada tahun 2022 lalu, yang menghadirkan penampilan dari musisi asal Belanda Boi Akih, musisi asal Bali I Made Subandi, dan Molucca Bamboowind Orchestra dari Ambon.

Lokananta

Lokananta merupakan studio rekaman pertama di Indonesia dan menjadi saksi bisu dalam sejarah perkembangan industri musik Tanah Air. Beberapa musisi legendaris pernah menjalankan rekaman di studio ini seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, Manthous, dan Sam Saimun.

Lokananta yang kemudian dijadikan museum ini memiliki ribuan koleksi terkait industri musik dan budaya Indonesia. Hal itu diantaranya adalah suara asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan set gamelan Lokananta Kyai Sri Kuncoro Mulyo yang telah ada sejak zaman Pangeran Diponegoro dan dibawa ke Solo oleh R. Moelyosoehardjo selaku pewaris pertama.

Di museum ini juga ada piringan hitam “‘Asian Games IV: Souvenir from Indonesia” yang berisi rekaman lagu dari berbagai daerah, termasuk lagu berjudul “Rasa Sayange.”

Lokananta berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Pada awalnya, studio rekaman ini dibangun tahun 1956 atas inisasi Kepala Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI), R. Maladi, dengan tujuan merekam materi siaran RRI dalam bentuk piringan hitam. Baru pada tahun 1960-an, Lokananta mulai merekam musik untuk para musisi.

Selepas tahun 1980-an, nama Lokananta sempat meredup. Kemudian tahun 2012 mulai bangkit kembali dan sejumlah musisi pun merekam lagu mereka di studio ini seperti White Shoes and The Couples Company, Pandai Besi, dan Shaggydog. Hingga kini studio rekaman Lokananta masih berfungsi dan mempertahankan produksi analog dengan format kaset pita.

Taman Musik Centrum

Bandung, Jawa Barat, juga punya destinasi wisata musik, yaitu Taman Musik Centrum. Lokasinya berada di dekat SMAN 5 Bandung, Jalan Belitung. Taman ini merupakan salah satu perwujudan dari program revitalisasi 600 taman dan ruang terbuka di Bandung oleh Ridwan Kamil.

Di taman ini terdapat sebuah patung gitar raksasa yang dibuat untuk mengenang peristiwa Sabtu Kelabu yang terjadi di sebuah konser musik metal di Bandung tahun 2008. Taman musik ini berada di lahan seluas 4.200 meter persegi dan di sana pengunjung dapat menikmati konser musik dari berbagai musisi yang tampil, bisa juga mendaftarkan diri untuk tampil di sana.

Taman ini juga telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti internet gratis, aliran listrik untuk mengisi daya, lampu penerangan, hingga panggung untuk pertunjukan.

Museum Musik Dunia Jatim Park 3

Jatim Park di Kota Batu, Jawa Timur, memang terkenal sebagai destinasi wisata edukasi yang ramah anak dan keluarga. Kebetulan di salah satu bagiannya yakni Jatim Park 3, terdapat museum musik yang memamerkan koleksi berbagai jenis alat musik dan karya-karya para seniman dunia, yakni Museum Musik Dunia.

Museum Musik Dunia memiliki area yang memamerkan alat musik tradisional Indonesia seperti rindik Bali, Tehyan Betawi, triton Papua, gula gending NTB, gamelan Sunda dan Jawa, dan masih banyak lagi.

Selain itu, ada pula zona yang menampilkan alat musik tradisional dari negara lain yang dibagi dalam bentuk zona. Misalnya zhong ruan, san xiang, dan guzheng dari China, tongqin dari Tibet, dan koleksi alat musik sing saw, yakni gergaji yang dijadikan instrumen untuk mengiringi lagu-lagu tertentu di Eropa.

Tak sampai di situ, pengunjung Museum Musik Dunia juga dapat melihat gitar khas India dengan bentuk yang khas, alat musik tabla, dan punji yang biasa digunakan untuk membuat ular kobra menari. Lebih menarik lagi, di museum ini juga terdapat memorabilia berbagai grup musik legendaris Indonesia tempo dulu, seperti Koes Plus dan Dara Puspita yang populer pada era 1960-an.

Saung Angklung Udjo

Membahas soal destinasi wisata musik tentu kurang lengkap bila tidak menyebut nama Saung Angklung Udjo. Didirikan sejak tahun 1966, Saung Angklung Udjo merupakan tempat wisata untuk belajar seni dan budaya tradisional Sunda.

Di Saung Angklung Udjo terdapat arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu, dan lokakarya alat musik bambu. Pengunjung bisa menonton berbagai pertunjukan seperti demonstrasi wayang golek, upacara helaran, angklung orkestra, dan arumba. Ada pula pertunjukan Bambu Petang dikembangkan dari konsep permainan tradisional. Tentunya wisawatan juga bisa belajar mengenai proses pembuatan angklung.

Saung Angklung Udjo berlokasi di Jalan Padasuka, Cibeunying Kidul. Nuansa di sana memadukan konsep tradisional dengan kondisi alam yang asri. Setelah puas belajar, wisatawan dapat mengunjungi restoran di dalam kawasan yang sama. Kalian dapat menikmati kuliner khas Sunda dan berbelanja suvenir seperti angklung, gambang, kujang, kendang, dan berbagai pernak-pernik.