Destinasi Slow Travelling di Indonesia, Mengenal Kearifan Lokal

Wisata Bisnis – Slow travel jadi tren liburan terkini yang ingin lebih menikmati pesona destinasi wisata. Slow travel identik dengan kegiatan yang lebih mengenal (ngeblend) kebiasaan, kebudayaan, dan karakter masyarakat sekitar. Penikmat slow travel biasanya tinggal lebih lama di kota tujuan.

Wisatawan tak hanya sekadar berwisata, tetapi juga bisa merasakan pengalaman yang lebih bermakna secara otentik serta menyatu dengan budaya lokal.

Indonesia memiliki beragam destinasi untuk slow travel. Dengan beragam desa wisata, wisata alam, bahkan kota-kota dengan budaya yang khas mampu menarik wisatawan dari berbagai belahan dunia untuk menikmati perjalan secara lebih Santai. Penasaran ada apa saja? Yuk Simak destinasi untuk slow travel di Indonesia berikut ini!

Mengapa Slow Travelling Jadi Tren?

Banyak orang kini lebih memilih liburan yang menenangkan daripada sekadar mengejar destinasi populer. Ada beberapa alasan mengapa slow traveling semakin diminati:

  • Menjaga kesehatan mental – Perjalanan santai membuat tubuh dan pikiran lebih rileks.
  • Lebih mindful – Memberi ruang untuk menikmati momen tanpa tergesa-gesa.
  • Pengalaman lebih dalam – Memungkinkan kamu mengenal budaya lokal secara autentik.

1. Kawasan Candi Muaro Jambi, Jambi

Pulau Sumatra juga memiliki destinasi yang cocok untuk slow travel yaitu Kawasan Candi Muaro Jambi di Provinsi Jambi. Destinasi ini sangat cocok bagi para pecinta budaya dan Sejarah dengan suasana tenang dan damai. 

Kawasan Candi Muaro Jambi merupakan Kawasan percandian terluas di Asia Tenggara dengan luas mencapai 3.981 hektar. Kawasan ini diduga sudah ada sejak Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu di abad 7-12 Masehi. Di masa lampau, tempat ini menjadi semacam area Pendidikan bagi kaum rohaniwan Buddha dari berbagai tempat, selain sebagai tempat peribatan. 

Kawasan Candi Muaro Jambi menawarkan pengalaman eksplorasi mendalam di berbagai percandian yang tersebar di Kawasan ini seperti Candi Tinggi, Candi Astano, Candi Gumpung, dan masih banyak lagi. Suasananya tenang dan rimbun oleh pepohonan sehingga sejuk walaupun saat siang hari. Yang menarik adalah untuk berkeliling Kawasan ini kalian dapat menyewa sepeda Listrik sehingga lebih ramah lingkungan. 

Tak hanya itu, wisatawan juga dapat merasakan pengalaman nan lebih otentik dengan menginap di homestay sekitaran Kawasan Muaro Jambi. Pastinya akan sangat menyenangkan menikmati suasana tenang di sini sambil membayangkan betapa sucinya Kawasan ini di masa lampau. 

Mau yang lebih menarik? Kalian bisa mencoba citarasa khas Jambi melalui pengalaman makan siang Istimewa bersama komunitas masyarakat di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi tepatnya di Pasar Dusun Karet. Pastinya penuh dengan kearifan lokal yang akan semakin menambah wawasan dan kecintaan kita terhadap budaya Indonesia. 

2. Yogyakarta

Siapapun pasti setuju bila Yogyakarta cocok untuk traveling. Semua yang pernah ke sana selalu merasa rindu untuk kembali. Kabar baiknya lagi adalah Yogyakarta masih menjadi destinasi wisata bagi banyak orang, termasuk para penganut slow travel.

Yogyakarta masih menjadi magnet untuk mereka yang hendak “healing” sejenak dari sibuknya rutinitas. Walau banyak yang bilang Yogyakarta sudah terlalu padat dan ramai terutama saat musim liburan, tetapi tidak menyurutkan minat wisatawan untuk mengunjunginya. 

Perpaduan antara budaya Jawa yang adiluhung dan keramahan masyarakat setempat terus terjaga di tengah hiruk pikuk kehidupan modern Yogyakarta masa kini. Tak heran bila Yogyakarta menjadi salah satu destinasi unggulan kategori “Wellness Tourism” yang tengah dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia di tahun 2025 ini sebagai implementasi dari program Pariwisata Naik Kelas.

Kita dapat merasakan berbagai pengalaman untuk menyegarkan jiwa, raga, dan pikiran dengan cara-cara tradisional khas Jawa seperti bermeditasi, mandi kembang, lulur dan spa ala Jawa, atau sekadar meleburkan diri di desa-desa wisata bersama masyarakat setempat untuk lebih mengenali budaya Jawa maupun diri sendiri. Semuanya mampu menghadirkan pengalaman traveling yang lebih berkualitas bagi para wisatawan.

Penikmat slow travel bisa memilih destinasi wisata dan lokasi menginap yang jauh dari pusat. Selain Yogya, kamu bisa memilih lokasi wisata di Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, dan daerah lagi di Yogyakarta.

3. Ende, Nusa Tenggara Timur

Bergeser ke arah timur, ada satu destinasi untuk slow travel yang tak boleh dilewatkan. Ia adalah Ende di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Ende dikenal sebagai tempat lahirnya Pancasila karena di sinilah Ir.Soekarno memiliki gagasan akan dasar negara ketika tengah diasingkan oleh Kolonial Belanda. Kalian juga dapat mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno selama berada di Ende. Tak heran jika Ende merupakan salah satu tempat bersejarah di Indonesia yang bernilai tinggi.

Bukan hanya itu, Ende juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan. Mulai dari Kawah Tiga Warna Gunung Kelimutu yang begitu menawan, Gunung Api Iya yang menjulang di Selatan Kota Ende, hingga Pantai Batu Biru yang eksotis dengan bebatuan berwarna biru kehijauan. 

Ende juga cocok untuk slow travel karena menawarkan pengalaman budaya nan otentik dengan masyarakat lokal. Kalian bisa berkunjung ke Kampung Adat Wologai untuk menyaksikan proses menenun kain ikat maupun sekadar mencicipi Kopi Flores yang mendunia. 

Dengan suasana yang tenang, masyarakat yang ramah, ditambah alam serta budaya yang memikat, pastinya cocok sekali untuk berlama-lama menikmati waktu di Ende. 

4. Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara

Sulawesi Utara tidak hanya terkenal akan alam bawah lautnya seperti yang ada di Bunaken, Likupang, dan Selat Lembeh. Provinsi tersebut juga masih memiliki destinasi di wilayah dataran tinggi Minahasa yang cocok untuk slow travel. Tak lain dan tak bukan adalah Tomohon.

Hanya berjarak kurang lebih 1 jam berkendara dari Manado melintasi jalanan berliku-liku menembus hutan dan pegunungan Minahasa, kita sudah bisa tiba di Tomohon. Kota Tomohon berada di ketinggian 900-1100 mdpl sehingga  suasananya asri dan sejuk cenderung dingin. Berbeda kontras dengan Kota Manado yang panas sehingga banyak masyarakat Manado yang sering ke Tomohon untuk sekadar healing maupun refreshing menikmati udara segar.

Kota Tomohon memiliki julukan sebagai Kota Bunga. Hal ini karena lokasinya yang berada di pegunungan sehingga memungkinkan beragam tanaman termasuk aneka bunga tumbuh dengan subur di sini. Tak hanya itu, Tomohon juga merupakan pusat industri bunga di Sulawesi Utara sehingga makin mempertegas julukan Kota Bunga tersebut. Tak heran jika Tomohon International Flower Festival juga diadakan di sini dan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata yang berhasil mendatangkan wisatawan dari berbagai penjuru. 

Tomohon cocok bagi penganut slow travel karena suasana kotanya tenang, asri, sejuk, dan damai. Selain itu, ada beragam destinasi wisata yang dapat didatangi dalam jarak yang tidak terlalu jauh dan memiliki nuansa alami. Mulai dari Air Terjun Tekaan Telu, Bukit Doa Mahawu, Gunung Mahawu, Gunung Lokon, Gunung Empung, Pagoda Ekayana, Gardenia Country Inn, Danau Linow, Hutan Pinus Danau Belerang Lahendong, Pemandian Air Panas Leilem, Bukit Kaisanti, dan Puncak Tetenana Kumelembuai.

Jangan lewatkan juga untuk mencicipi kuliner khas Minahasa seperti Tinutuan, Ayam Woku, Tinoransak, Halua Kenari, dan Nasi Bungkus Daun Laikit. Perpaduan pesona alam Tanah Minahasa dengan kulinernya yang berbumbu kuat dan pedas ditambah dengan keramahan masyarakat Minahasa membuat waktu seolah berjalan lebih lambat selama berada di Tomohon. Penasaran? Silakan saja coba sendiri slow travel ke Tomohon!

About pangeranbertopeng