Inovasi Kualitas Beras dari Banyuwangi : Beras Biofortifikasi

Wisata Bisnis – Sebagai salah satu lumbung padi nasional, Kabupaten Banyuwangi terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas hasil pertaniannya. Kini, Banyuwangi menjadi daerah pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mengembangkan ekosistem industrialisasi beras biofortifikasi. Hal itu secara menyeluruh dari hulu ke hilir, melalui produk unggulan bernama Sun Rice of Java Banyuwangi atau Sunwangi.

Sunwangi atau Sun Rice of Java Banyuwangi adalah beras biofortifikasi bernutrisi tinggi. Melalui hasil budidaya benih padi yang telah ditingkatkan kandungan gizinya. Dengan aneka vitamin dan mineral, seperti Vitamin A, B1, B3, B12, B9 (asam folat), zat besi, dan zinc.

Dr. Nurjaeni, Direktur Sistem Gizi Nasional di Badan Gizi Nasional (BGN), menekankan relevansi inisiatif ini dengan rencana jangka panjang peningkatan status gizi masyarakat.

“Penguatan gizi dimulai dari lahan pertanian. Beras biofortifikasi menawarkan pendekatan berbasis pangan untuk mengurangi kekurangan zat gizi mikro, serta sejalan dengan Program Makan Bergizi Gratis dan target nasional penurunan stunting. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana inovasi di hulu dapat mendukung hilirisasi.” ujarnya.

Inti dari inisiatif ini adalah budidaya varietas padi biofortifikasi yang diperkaya dengan zat besi (Fe) dan zinc (Zn)—dua mikronutrien penting untuk tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu. Pada tahap awal, ekosistem ini diuji di lahan seluas 5 hektar. Dengan menggunakan varietas Nutrizinc, yang memiliki kandungan zat besi dan zinc 25–50% lebih tinggi dibandingkan padi biasa.

Meski Nutrizinc telah menunjukkan hasil gizi yang tinggi, di tahap selanjutnya ekosistem ini memperkenalkan varietas benih yang telah disempurnakan. Seperti IPB 9G dan IPB 15S, sekaligus menjajaki varietas padi biofortifikasi lainnya dengan kandungan gizi tinggi.

Peluncuran Sunwangi Kolaborasi dari Multipihak

Ekosistem Sunwangi merupakan kolaborasi multipihak mulai dari pemerintah, akademisi, praktisi, perbankan, swasta, dan petani.

Pemkab sebagai orkestrator, Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai pengembang benih biofortifikasi dan mitra riset seperti Pandawa Agri Indonesia (PAI) penyedia inovasi dan teknologi pertanian regeneratif.

Sementara Danone Indonesia sebagai mitra keberlanjutan dan pemenuhan gizi. Bulog sebagai off-taker nasional, Bank Indonesia sebagai pendukung pembiayaan inklusif, serta ratusan petani sebagai pelaku utama.

Selama proses budidaya, para petani didampingi oleh tim teknis PAI melalui pendekatan PPAI Teknologi yang mencakup intervensi di 10 tahapan budidaya padi. Pendekatan ini membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan input, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Selain itu, budidaya Sunwangi mengusung prinsip Low Carbon Agriculture, sehingga rendah emisi, ramah lingkungan. Serta menghasilkan produk akhir yang memiliki dampak positif terhadap pencegahan stunting pada bayi.

Peluncuran “Sunwangi” juga dihadiri oleh seluruh pihak yang berkontribusi pada ekosistem industri beras biofortifikasi di Banyuwangi. Diantaranya Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Rachmad dan Direktur Sistem Pemenuhan Gizi Badan Gizi Nasional Nurjaeni.

Selain itu turut hadir Kepala Kantor Perwakilan BI Jember Gunawan, Pimpinan Wilayah Bulog Jatim Langgeng Wisnu Adi, Sekretaris Institut Pertanian Bogor (IPB) University Agus Purwito, CEO Pandawa Agri Indonesia (PAI) Kukuh Roxa, Tim Pengendali Inflasi Pangan, serta Head of Public Affairs and Sustainability Danone Ratih Anggraini.

About pangeranbertopeng