Slow Tourism: Tren Wisata yang Mengutamakan Pengalaman daripada Jumlah Destinasi

Wisata Bisnis – Ada perubahan dalam cara orang berlibur yang mulai membawa pengaruh besar terhadap industri pariwisata. Perubahan tersebut dikenal sebagai slow tourism, yaitu konsep wisata yang mengutamakan pengalaman, interaksi dengan masyarakat lokal, dan kesempatan menikmati suatu destinasi dengan lebih santai.

Dalam Outlook Kepariwisataan Indonesia 2026, Kementerian Pariwisata memasukkan pergeseran dari overtourism ke slow tourism sebagai salah satu tren besar yang memengaruhi perkembangan pariwisata dunia. Pergeseran ini juga sejalan dengan perubahan fokus pertumbuhan pariwisata, dari sekadar mengejar jumlah kunjungan menjadi mengutamakan kualitas pengalaman wisatawan.

Melalui pendekatan tersebut, wisatawan tidak lagi hanya berusaha mengunjungi sebanyak mungkin tempat dalam satu perjalanan. Sebaliknya, mereka mulai memberikan lebih banyak waktu untuk menikmati suasana, mengenal budaya setempat, dan memperoleh pengalaman yang lebih berkesan.

Mengenal Slow Tourism dan Perbedaannya dengan Wisata Biasa

Perjalanan wisata dengan jadwal padat masih menjadi pilihan banyak orang. Dalam satu hari, wisatawan bisa mengunjungi beberapa tempat sekaligus, mengambil foto, mencicipi kuliner, lalu melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Semakin banyak tempat yang dikunjungi, semakin lengkap pula perjalanan tersebut terasa.

Namun, slow tourism menawarkan pendekatan yang berbeda. Wisatawan tidak perlu terburu-buru berpindah tempat karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati destinasi yang dikunjungi.

“Wisatawan tidak mengejar sebanyak mungkin titik di peta. Mereka memberikan waktu lebih panjang kepada satu tempat agar pengalaman yang diperoleh tidak berhenti pada apa yang terlihat dari kamera,” ungkap Marhen.

Pendekatan ini mendorong wisatawan untuk mengenal suatu destinasi secara lebih mendalam. Mereka dapat mencoba makanan khas, mengikuti kegiatan masyarakat setempat, mempelajari tradisi lokal, atau menikmati alam tanpa harus mengejar jadwal perjalanan yang terlalu padat.

Sejalan dengan itu, sebuah kajian tentang slow tourism yang terbit dalam jurnal Tourism Planning & Development pada 2025 menjelaskan bahwa konsep ini mendorong wisatawan untuk memperlambat perjalanan, mengenal budaya lokal, membangun hubungan dengan masyarakat, dan menikmati destinasi secara lebih utuh.

Dengan demikian, slow tourism bukan sekadar bepergian dengan tempo yang lebih lambat. Konsep ini juga mengubah cara wisatawan menikmati perjalanan, dari sekadar mengunjungi berbagai tempat menjadi pengalaman yang lebih mendalam dan bermakna.

Apakah Slow Tourism Lebih Ramah Lingkungan?

Meskipun mengutamakan pengalaman dan waktu tinggal yang lebih panjang, slow tourism tidak selalu berarti wisata yang lebih ramah lingkungan. Dampaknya tetap bergantung pada cara wisatawan melakukan perjalanan dan bagaimana pengelola destinasi mengatur kegiatan pariwisata.

Sebuah kajian akademik lain menunjukkan bahwa hubungan antara slow tourism dan keberlanjutan lingkungan tidak selalu sederhana. Menghabiskan lebih banyak waktu di satu destinasi memang dapat mengurangi kebutuhan untuk berpindah-pindah tempat. Namun, perjalanan jarak jauh menuju destinasi tetap dapat menghasilkan emisi yang besar.

Selain transportasi, kebiasaan wisatawan selama berlibur juga memengaruhi dampak lingkungan. Penggunaan air dan energi, jumlah sampah yang dihasilkan, serta pilihan transportasi dan konsumsi turut menentukan apakah kegiatan wisata tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Artinya, slow tourism tidak cukup hanya dengan memperpanjang waktu tinggal. Pengelola destinasi juga perlu memperhatikan ketersediaan air, penggunaan energi, pengelolaan sampah, transportasi, dan kapasitas lingkungan dalam menampung wisatawan.

Sebagai contoh, wisatawan yang tinggal selama sepuluh hari di suatu destinasi belum tentu memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil apabila menggunakan sumber daya secara berlebihan. Karena itu, manfaat slow tourism sangat bergantung pada pengelolaan destinasi dan perilaku wisatawan selama perjalanan.

Tantangan Slow Tourism bagi Pengelola Destinasi Wisata

Penerapan slow tourism juga menghadirkan tantangan bagi pemerintah dan pengelola destinasi. Mereka tidak cukup hanya mengajak wisatawan untuk tinggal lebih lama, tetapi juga perlu menyediakan pengalaman yang membuat wisatawan tertarik untuk menikmati kawasan tersebut selama beberapa hari.

Memberikan diskon kamar hotel saja belum tentu mampu mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal. Destinasi perlu menawarkan beragam aktivitas yang dapat dinikmati tanpa mengharuskan pengunjung berpindah ke tempat lain.

“Wisatawan membutuhkan rangkaian pengalaman. Pagi bisa diisi dengan aktivitas alam, siang dengan kuliner, sore dengan interaksi budaya, dan malam dengan pertunjukan lokal. Hari berikutnya menghadirkan pengalaman yang berbeda tanpa harus meninggalkan kawasan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pengembangan destinasi perlu dilakukan secara menyeluruh. Pengelola dapat menggabungkan wisata alam, kuliner, budaya, dan kegiatan masyarakat ke dalam rangkaian aktivitas yang saling melengkapi.

Dalam Outlook Kepariwisataan Indonesia 2026, Kementerian Pariwisata juga menempatkan penyusunan pola perjalanan, diversifikasi produk wisata, pengembangan atraksi, penyediaan fasilitas, serta peningkatan aksesibilitas sebagai bagian dari pengembangan destinasi.

Langkah tersebut penting untuk mendukung slow tourism. Dengan pilihan aktivitas yang beragam dan fasilitas yang memadai, wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk memperpanjang masa tinggal sekaligus menikmati pengalaman yang berbeda setiap hari.

“Sebuah destinasi tidak bisa meminta wisatawan tinggal lebih lama jika produk wisatanya selesai dinikmati dalam satu hari. Lama tinggal harus lahir dari kualitas pengalaman, bukan dari strategi menahan wisatawan,” jelas Marhen.

Pada akhirnya, keberhasilan slow tourism tidak hanya diukur dari lamanya wisatawan tinggal di suatu destinasi. Kualitas pengalaman, keterlibatan masyarakat lokal, pengelolaan lingkungan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

About pangeranbertopeng